Suluk-suluk S. Bonang

SASTRA PESISIR JAWA TIMUR DAN SULUK-SULUK SUNAN BONANG•
(Friday, 26 May 2006) –
Untitled Document
SASTRA PESISIR JAWA TIMUR
DAN
SULUK-SULUK SUNAN BONANG”
Oleh

Abdul Hadi W. M.

Jawa Timur adalah propinsi tempat kediaman asal dua suku bangsa besar, yaitu
Jawa dan Madura, dengan tiga sub-etnik yang memisahkan diri dari rumpun besarnya
seperti Tengger di Probolinggo, Osing di Banyuwangi dan Samin di Ngawi. Dalam
sejarahnya kedua suku bangsa tersebut telah labih sepuluh abad mengembangkan
tradisi tulis dalam berkomunikasi dan mengungkapkan pengalaman estetik mereka.
Kendati kemudian, yaitu pada akhir abad ke-18 M, masing-masing menggunakan bahasa yang
jauh berbeda dalam penulisan kitab dan karya sastra Jawa dan Madura
akan tetapi kesusastraan mereka memiliki akar dan sumber yang sama,
serta berkembang mengikuti babakan sejarah yang sejajar. Pada zaman Hindu kesusastraan
mereka satu, yaitu sastra Jawa Kuno yang ditulis dalam bahasa Kawi dan aksara
Jawa Kuno. Setelah agama Islam tersebar pada abad ke-16 M bahasa Jawa Madya
menggeser bahasa Jawa Kuno. Pada periode ini dua aksara dipakai secara bersamaan,
yaitu aksara Jawa yang didasarkan tulisan Kawi dan aksara Arab Pegon yang didasarkan
huruf Arab Melayu (Jawi).

Pigeaud (1967:4-7) membagi perkembangan sastra Jawa secara keseluruhan ke dalam
empat babakan: (1) Zaman Hindu verlangsung pada abad ke-9 – 15 M. Puncak perkembangan
sastra pada periode ini berlangsung pada zaman kerajaan Kediri (abad ke-11 dan
12 M, dilanjutkan dengan zaman kerajaan Singosari (1222-1292 M) dan Majapahit
(1292-1478 M); (2) Zaman Jawa-Bali pad abad ke-16 – ke-19 M. Setelah Majapahit
diruntuhkan kerajaan Demak pada akhir abad ke-15 M, ribuan pengikut dan kerabat
raja Majapahit pindah ke Bali. Kegiatan sastra Jawa Kuno dilanjutkan di tempat
tinggal mereka yang baru ini; (3) Zaman Pesisir berlangsung pada abad ke-15
-19 M. Pada zaman ini kegiatan sastra berpindah ke kota-kota pesisir yang merupakan
pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam; (4) Zaman Surakarta dan Yogyakarta
berlangsung pada abad ke-18 – 20 M. Pada akhir abad ke-18 M di Surakarta, terjadi
renaisan sastra Jawa Kuno dipelopori oleh Yasadipura I. Pada masa itu karya-karya
Jawa Kuno digubah kembali dalam bahasa Jawa Baru. Lebih kurang tiga dasawarsa
kemudian, karya Pesisir juga mulai banyak yang disadur atau dicipta ulang dalam
bahasa Jawa Baru di kraton Surakarta.

Khazanah
Sastra Jawa Timur.
Khazanah

sastra zaman Hindudan Islam Pesisir dua zaman yang relevan bagi pembicaraan
kita — sama melimpahnya. Keduanya telah memainkan peran penting masing-masing
dalam kehidupan dalam masyarakat Jawa dan Madura. Pengaruhnya juga tersebar
luas tidak terbatas di Jawa, Bali dan Madura. Karya-karya Pesisir ini juga mempengaruhi
perkembangan sastra di Banten, Palembang, Banjarmasin, Pasundan dan Lombok (Pigeaud
1967:4-8). Di antara karya Jawa Timur yang paling luas wilayah penyebarannya
ialah siklus Cerita Panji. Versi-versinya yang paling awal diperkirakan ditulis
menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15 M (Purbatjaraka,
1958). Cerita mengambil latar belakang di lingkungan kerajaan Daha dan Kediri.
Versi roman ini, dalam bahasa-bahasa Jawa, Sunda, Bali, Madura, Melayu, Siam,
Khmer dan lain-lain, sangat banyak. Dalam sastra Melayu terdapat versi yang
ditulis dalam bentuk syair, yang terkenal di antaranya ialah Syair Ken Tambuhan
dan Hikayat Andaken Penurat.

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02
Tetapi

bagaimana pun juga yang dipandang sebagai puncak perkembangan sastra Jawa Kuno
ialah kakawin seperti Arjuna Wiwaha (Mpu Kanwa), Hariwangsa (Mpu Sedah), Bharatayudha
(Mpu Sedah dan Mpu Panuluh), Gatotkacasraya (Mpu Panuluh), Smaradahana (Mpu
Dharmaja), Sumanasantaka (Mpu Monaguna), Kresnayana (Mpu Triguna), Arjunawijaya
(Mpu Tantular), Lubdhaka (Mpu Tanakung); atau karya-karya yang ditulis lebih
kemudian seperti Negarakertagama (Mpu Prapanca), Kunjarakarna, Pararaton, Kidung
Ranggalawe, Kidung Sorandaka, Sastra Parwa (serial kisah-kisah dari Mahabharata)
dan lain-lain (Zoetmulder 1983: 80-478). Apabila sumber sastra Jawa Kuno terutama
sekali ialah sastra Sanskerta, seperti diperlihatkan oleh puitika dan bahasanya
yang dipenuhi kosa kata Sanskerta; sumber sastra Pesisir ialah sastra Arab,
Parsi dan Melayu. Bahasa pun mulai banyak meminjam kosa kata Arab dan Parsi,
terutama yang berhubungan dengan konsep-konsep keagamaan.
Kegiatan sastra Pesisir bermula di kota-kota pelabuhan Gresik, Tuban, Sedayu,
Surabaya, Demak dan Jepara. Di kota-kota inilah komunitas-komunitas Muslim Jawa
yang awal mulai terbentuk. Mereka pada umumnya terdiri dari kelas menengah yang
terdidik, khususnya kaum saudagar kaya. Dari kota-kota ini kegiatan sastra Pesisir
menyebar ke Cirebon dan Banten di Jawa Barat, dan ke Sumenep dan Bangkalan di
pulau Madura. Pengaruh sastra Pesisir ternyata tidak hanya terbatas di pulau
Jawa saja. Disebabkan mobilitas para pedagang dan penyebar agama Islam yang
tinggi, kegiatan tersebut juga menyebar ke luar Jawa seperti Palembang, Lampung,
Banjarmasin dan Lombok. Pada abad ke-18 dan 19 M, dengan pindahnya pusat kebudayaan
Jawa ke kraton Surakarta dan Yogyakarta, kegiatan penulisan sastra Pesisir juga
berkembang di daerah-daerah Surakarta dan Yogyakara, serta tempat lain di sekitarnya
seperti Banyumas, Kedu, Madiun dan Kediri (Pigeaud 1967:6-7)
Khazanah sastra Pesisir tidak kalah melimpahnya dibanding khazanah sastra Jawa Kuno.
Khazanah tersebut meliputi karya-karya yang ditulis dalam bahasa Jawa Madya,
Madura dan Jawa Baru, dan dapat dikelompokkan menurut jenis dan coraknya sebagaimana
pengelompokan dalam sastra Melayu Islam, seperti berikut. (1) Kisah-kisah berkenaan
dengan Nabi Muhammad s.a.w; (2) Kisah para Nabi, di Jawa disebut Serat Anbiya.
Dari sumber ini muncul kisah-kisah lepas seperti kisah Nabi Musa, Kisah Yusuf
dan Zuleikha, Kisah Nabi Idris, Nuh, Ibrahim, Ismail, Sulaiman, Yunus, Isa dan
lain-lain; (3) Kisah Sahabat-sahabat Nabi seperti Umar bin Khattab dan Ali bin
Abi Thalib; (4) Kisah Para Wali seperti Bayazid al-Bhiztami, Ibrahim Adam dan
lain-lain; (5) Hikayat Raja-raja dan Pahlawan Islam, seperti Amir Hamzah, Muhammad
Hanafiah, Johar Manik, Umar Umayya dan lain-lain. Dalam sastra Jawa, Madura
dan Sunda disebut Serat Menak, serial kisah para bangsawan Islam; (6) Sastra
Kitab, uraian mengenai ilmu-ilmu Islam seperti tafsir al-Quran, hadis,
ilmu fiqih, usuluddin, tasawuf, tarikh (sejarah), nahu (tatabahasa Arab), adab
(sastra Islam) dan lain-lain, dengan menggunakan gaya bahasa sastra; (7) Karangan-karangan
bercorak tasawuf. Dalam bentuk puisi karangan seperti itu di Jawa disebut suluk.
Tetapi juga tidak jarang dituangkan dalam bentuk kisah perumpamaan atau alegori.
Dalam bentuk kisah perumpamaan dapat dimasukkan kisah-kisah didaktis, di antaranya
yang mengandung ajaran tasawuf; (7) Karya Ketatanegaraan, yang menguraikan masalah
politik dan pemerintahan, diselingi berbagai cerit; (8) Karya bercorak sejarah;
(9) Cerita Berbingkai, di dalamnya termasuk fabel atau cerita binatang; (10)
Roman, kisah petualangan bercampur percintaan; (11) Cerita Jenaka dan Pelipur
Lara. Misalnya cerita Abu Nuwas (Ali Ahmad dan Siti Hajar Che Man:1996;
Pigeaud I 1967:83-7 ).
Yang relevan untuk pembicaraan ini ialah no. 6, karangan-karangan bercorak tasawuf
dan roman yang sering digubah menjadi alegori sufi. Karangan-karangan bercorak
tasawuf disebut suluk dan lazim ditulis dalam bentuk puisi atau tembang. Jumlah
karya jenis ini cukup melimpah. Contohnya ialah Kitab Musawaratan Wali Sanga,
Suluk Wali Sanga, Mustika Rancang, Suluk Malang Sumirang, Suluk Aceh, Suluk
Walih, Suluk Daka, Suluk Syamsi Tabris, Suluk Jatirasa, Suluk Johar Mungkin,
Suluk Pancadriya, Ontal Enom (Madura), Suluk Jebeng dan lain-lain. Termasuk
kisah perumpunaan dan didaktis ialah Samaun dan Mariya, Masirullah, Wujud
Tuinggal, Suksma Winasa, Dewi Malika, Syeh Majenun (Pigeaud I: 84-88). Agak
mengejutkan juga karena dalam kelompok ini ditemukan kisah didaktis berjudul
Bustan, yang merupakan saduran karya penyair Parsi terkenal abad ke-13 M, Syekh
Sadi al-Syirazi, yang petikan sajak-sajaknya dalam bahasa Persia terdapat
pada makam seorang muslimah Pasai, Naina Husamuddin yang wafat pada abad ke-14
http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02 M.
Dalam khazanah sastra Pesisir juga didapati karya ketatanegaraan dan pemerintahan
seperti Paniti Sastra dan saduran Tajus Salatin karya Bukhari al-Jauhari (1603)
dari Aceh. Saduran Taj al-Salatin dalam bahasa Jawa ini ditulis dalam bentuk
tembang. Karya-karya kesejarahan tergolong banyak. Di antaranya ialah Babad
Giri, Babad Gresik, Babad Demak, Babad Madura, Babad Surabaya, Babad Sumenep,
Babad Besuki, Babad Sedayu, Babad Tuban, Kidung Arok, Juragan Gulisman (Madura)
dan Kek Lesap (Madura). Ada pun roman yang populer di antaranya ialah Certta
Mursada, Jaka Nestapa, Jatikusuma, Smarakandi, Sukmadi, sedangkan dari Madura
ialah Tanda Anggrek, Bangsacara Ragapadmi dan Lanceng Prabhan (Ibid). Karya-karya
Pesisir lain dari Madura yang terkenal ialah Caretana Barakay, Jaka Tole, Tanda
Serep, Baginda Ali, Paksi Bayan, Rato Sasoce, Malyawan, Serat Rama, Judasan
Arab, Menak Satip, Prabu Rara, Rancang Kancana, Hokomollah, Pandita Rahib, Keyae
Sentar, Lemmos, Raja Kombhang, Sesigar Sebak, Sokma Jati, Rato Marbin, Murbing
Rama, Barkan, Malang Gandring, Pangeran Laleyan, Brangta Jaya dan lain-lain.
Penulis-penulis Pesisir yang awal pada umumnya ialah para wali dan ahli tasawuf
terkemuka seperti Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan
Giri, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, Sunan Panggung dan Syekh Siti Jenar. Yang
amat disayangkan ialah karena dalam daftar yang terdapat dalam katalog-katalog
naskah Jawa Timur, nama pengarang dan penyalin teks jarang sekali disebutkan.
Namun sejauh mengenai teks-teks dari Madura, terdapat beberapa nama pengarang
terkenal pada abad ke-17 19 M yang dapat dicatat. Misalny Abdul Halim
(pengarang Tembang Bato Gunung), Mohamad Saifuddin (pegarang Serat Hokomolla
dan Nabbi Mosa), Ahmad Syarif, R. H. Bangsataruna, Sasra Danukusuma, Umar Sastradiwirya
dan lain-lain (Abdul Hadi W. M. 1981).

Penelitian
ini tidak akan membahas semua karya yang telah disebutkan, karena apabila dilakukan
maka pembicaraan akan menjadi sangat luas. Supaya terfokus, pembicaraan akan
ditumpukan pada suluk-suluk karya Sunan Bonang, khususnya Suluk Wujil, yang
sedikit banyak mencerminkan kecenderungan umum sastra Pesisir awal. Beberapa
alasan lain dapat dikemukakan di sini, sebagai berikut:

Pertama, Kajian terhadap karya Jawa Kuna telah banyak dilakukan baik oleh sarjana
Indonesia maupun asing, sedangkan karya Pesisir masih sangat sedikit yang memberi
perhatian. Padahal pengaruh karya Pesisir itu tidak kecil terdahap kebudayaan
masyarakat Jawa Timur. Pengaruh tersebut meliputi bidang-bidang seperti metafisika,
kosmologi, etika, psikologi dan estetika, karena yang diungkapkan karya-karya
Pesisir itu mencakup persoalan-persoalan yang dibicarakan dalam bidang-bidang
tersebut.
Kedua, Selama beberapa dasawarsa Sunan Bonang hanya dikenal sebagai seorang
wali dan belum banyak yang membahas karya-karya serta pemikirannya di bidang
keruhanian, kebudayaan dan agama. Kajian yang cukup mendalam sebagian besar
dilakukan oleh sarjana asing seperti Schrieke (1911), Kraemer (1921) dan Drewes
(1967). Sarjana Indonesia yang meneliti, namun tidak mendalam ialah Purbatjaraka
(1938). Selebihnya pembicaraan mengenai Sunan Bonang hanya menyangkut kegiatannya
sebagai wali penyebar agama Islam.
Ketiga, Suluk sebagai karangan bercorak tasawuf yang disampaikan dalam bentuk
tembang, mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan spiritual masyarakat Jawa
Timur. Mengingkari peranan suluk dan sastra suluk adalah mengingkari realitas
budaya masyarakat Jawa Timur.
Keempat, Suluk-suluk Sunan Bonang mencerminkan babakan sejarah yang penting
dalam kebudayaan Jawa, yaitu zaman peralihan dari Hindu ke Islam yang berlangsung
secara damai.
Kelima, Suluk-suluk tersebut merupakan karya bercorak tasawuf paling awal dalam
sejarah sastra Jawa secara umum dan pengaruhnya tidak kecil bagi perkembangan sastra Pesisir.

Sunan Bonang Sebagai Pengarang

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02
Sunan Bonang diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke-15 M dan wafat pada
awal abad ke-16 M. Ada yang memperkirakan wafat pada tahun 1626 atau 1630, ada
yang memperkirakan pada tahun 1622 (de Graff & Pigeaud 1985:55). Dia adalah
ulama sufi, ahli dalam berbagai bidang ilmu agama dan sastra. Juga dikenal ahli
falak, musik dan seni pertunjukan. Sebagai sastrawan dia menguasai bahasa dan
kesusastraan Arab, Persia, Melayu dan Jawa Kuno. Nama aslinya ialah Makhdum
Ibrahim. Dalam suluk-suluknya dan dari sumber-sumber sejarah lokal ia disebut
dengan berbagai nama gelaran seperti Ibrahim Asmara, Ratu Wahdat, Sultan Khalifah
dan lain-lain (Hussein Djajadiningrat 1913; Purbatjaraka 1938; Drewes 1968).
Nama Sunan Bonang diambil dari nama tempat sang wali mendirikan pesujudan (tempat
melakukan `uzlah) dan pesantren di desa Bonang, tidak jauh dari Lasem di perbatasan
Jawa Tengah Jawa Timur sekarang ini. Tempat ini masih ada sampai sekarang
dan ramai diziarahi pengunjung untuk menyepi, seraya memperbanyak ibadah seperti
berzikir, mengaji al-Quran dan tiraqat (Abdul Hadi W. M. 2000:96-107).
Kakeknya bernama Ibrahim al-Ghazi bin Jamaluddin Husain, seorang ulama terkemuka
keturunan Turki-Persia dari Samarkand. Syekh Ibrahim al-Ghazi sering dipanggil
Ibrahim Asmarakandi (Ibrahim al-Samarqandi), nama takhallus atau gelar yang
kelak juga disandang oleh cucunya. Sebelum pindah ke Campa pada akhir abad ke-14 M, Syekh Ibrahim al-Ghazi tinggal di Yunan, Cina Selatan. Pada masa itu Yunan
merupakan tempat singgah utama ulama Asia Tengah yang akan berdakwah ke Asia
Tenggara. Di Campa dia kawin dengan seorang putri Campa keturunan Cina dari
Yunan. Pada tahun 1401 M lahirlah putranya Makhdum Rahmat, yang kelak akan menjadi
masyhur sebagai wali terkemuka di pulau Jawa dengan nama Sunan Ampel. Setelah
dewasa Rahmat pergi ke Surabaya,mengikuti jejak bibinya Putri Dwarawati dari
Campa yang diperistri oleh raja Majapahit Prabu Kertabhumi atau Brawijaya V.
Di Surabaya, ayah Sunan Bonang ini, mendapat tanah di daerah Ampel, Surabaya,
tempat dia mendirikan masjid dan pesantren. Dari perkawinannya dengan seorang
putri Majapahit, yaitu anak adipati Tuban, Tumenggung Arya Teja, dia memperoleh
beberapa putra dan putri. Seorang di antaranya yang masyhur ialah Makhdum Ibrahim
alias Sunan Bonang. (Hussein Djajadiningrat 1983:23; Agus Sunyoto 1995::48).
Sejak muda Makhdum Ibrahim adalah seorang pelajar yang tekun dan muballigh yang
handal. Setelah mempelajari bahasa Arab dan Melayu, serta berbagai cabang ilmu
agama yang penting seperti fiqih, usuluddin, tafsir Qur, hadis dan tasawuf;
bersama saudaranya Sunan Giri dia pergi ke Mekkah dengan singgah terlebih dahulu
di Malaka, kemudian ke Pasai. Di Malaka dan Pasai mereka mempelajari bahasa
dan sastra Arab lebih mendalam. Sejarah Melayu merekam kunjungan Sunan Bonang
dan Sunan Giri ke Malaka sebelum melanjutkan perjalanan ke Pasai. Sepulang dar
Mekkah, melalui jalan laut dengan singgah di Gujarat, India, Sunan Bonang ditugaskan
oleh ayahnya ntuk memimpin masjid Singkal, Daha di Kediri (Kalamwadi 1990:26-30).
Di sini dia memulai kariernya pertama kali sebagai pendakwah.

Ketika masjid Demak berdiri pada tahun 1498 M Sunan Bonang untuk menjadi imamnya yang
pertama. Dalam menjalankan tugasnya itu dia dibantu oleh Sunan Kalijaga, Ki
Ageng Selo dan wali yang lain. Di bawah pimpinannya masjid agung itu berkembang
cepat menjadi pusat keagamaan dan kebudayaan terkemuka. Tetapi sekitar tahun
1503 M, dia berselisih paham dengan Sultan Demak dan memutuskan untuk meletakkan
jabatannya sebagai imam masjid agung. Dari Demak Sunan Bonang pindah ke Lasem,
dan memilih desa Bonang sebagai tempat kegiatannya yang baru. Di sini dia mendidirikan
pesujudan dan pesantren. Beberapa karya Sunan Bonang, khususnya Suluk Wujil,
mengambil latar kisah di pesujudannya ini. Di tempat inilah dia mengajarkan
tasawuf kepada salah seorang muridnya, Wujil, seorang cebol namun terpelajar
dan bekas abdi dalem kraton Majapahit (Abdul Hadi W. M. 2000:96-107).
Setelah cukup lama tinggal di Bonang dan telah mendidik banyak murid, dia pun
pulang ke Tuban. Di sini dia mendirikan masjid besar dan pesantren, meneruskan
kegiatannya sebagai seorang muballigh, pendidik, budayawan dan sastrawan terkemuka
sehingga masa akhir hayatnya.
Dalam sejarah sastra Jawa Pesisir, Sunan Bonang dikenal sebagai penyair yang
prolifik dan penulis risalah tasawuf yang ulung. Dia juga dikenal sebagai pencipta
beberapa tembang (metrum puisi) baru dan mengarang beberapa cerita wayang bernafaskan
Islam. Sebagai musikus dia menggubah beberapa gending (komposisi musik gamelan)
seperti gending Dharma yang sangat terkenal. Di bawah pengaruh wawasan estetika
http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02
sufi yang diperkenalkan para wali termasuk Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga,
gamelan Jawa berkembang menjadi oskestra polyfonik yang sangat meditatif dan
kontemplatif. Sunan Bonang pula yang memasukkan instrumen baru seperti rebab
Arab dan kempul Campa (yang kemudian disebut bonang, untuk mengabadikan namanya)
ke dalam susunan gamelan Jawa.

Karya-karya Sunan Bonang yang dijumpai hingga sekarang dapat dikelompokkan menjadi
dua: (1) Suluk-suluk yang mengungkapkan pengalamannya menempuh jalan tasawuf
dan beberapa pokok ajaran tasawufnya yang disampaikan melalui ungkapan-ungkapan
simbolik yang terdapat dalam kebudayaan Arab, Persia, Melayu dan Jawa. Di antara
suluk-suluknya ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol,
Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Pipiringan, Gita Suluk Latri, Gita Suluk
Linglung, Gita Suluk ing Aewuh, Gita Suluk Jebang, Suluk Wregol dan lain-lain
(Drewes 1968). (2) Karangan prosa seperti Pitutur Sunan Bonang yang ditulis
dalam bentuk dialog antara seorang guru sufi dan muridnya yang tekun. Bentuk
semacam ini banyak dijumpai sastra Arab dan Persia.

Suluk-suluk Sunan Bonang
Sebagaimana telah dikemukakan suluk adalah salah satu jenis karangan tasawuf
yang dikenal dalam masyarakat Jawa dan Madura dan ditulis dalam bentuk puisi
dengan metrum (tembang) tertentu seperti sinom, wirangrong, kinanti, smaradana,
dandanggula dan lain-lain . Seperti halnya puisi sufi umumnya, yang diungkapkan
ialah pengalaman atau gagasan ahli-ahli tasawuf tentang perjalana keruhanian
(suluk) yang mesti ditempuh oleh mereka yang ingin mencpai kebenaran tertinggi,
Tuhan, dan berkehendak menyatu dengan Rahasia Sang Wujud. Jalan itu ditempuh
melalui berbagai tahapan ruhani (maqam) dan dalam setiap tahapan seseorang akan
mengalami keadaan ruhani (ahwal) tertentu, sebelum akhirnya memperoleh kasyf
(tersingkapnya cahaya penglihatan batin) dan makrifat, yaitu mengenal Yang Tunggal
secara mendalam tanpa syak lagi (haqq al-yaqin). Di antara keadaan ruhani penting
dalam tasawuf yang sering diungkapkan dalam puisi ialah wajd (ekstase mistis),
dzawq (rasa mendalam), sukr (kegairahan mistis), fana (hapusnya kecenderungan
terhadap diri jasmani), baqa (perasaan kekal di dalam Yang Abadi) dan
faqr (Abdul Hadi W. M. 2002:18-19).

. Faqr adalah tahapan dan sekaligus keadaan ruhani tertinggi yang dicapai seorang
ahli tasawuf, sebagai buah pencapaian keadadaan fana dan baqa.
Seorang faqir, dalam artian sebenarnya menurut pandangan ahli tasawuf, ialah
mereka yang demikian menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki apa-apa,
kecuali keyakinan dan cinta yang mendalam terhadap Tuhannya. Seorang faqir tidak
memiliki keterpautan lagi kepada segala sesuatu kecuali Tuhan. Ia bebas dari
kungkungan diri jasmani dan hal-hal yang bersifat bendawi, tetapi
tidak berarti melepaskan tanggung jawabnya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi.
Sufi Persia abad ke-13 M menyebut bahwa jalan tasawuf merupakan Jalan Cinta
(mahabbah atau `isyq). Cinta merupakan kecenderungan yang kuat terhadap Yang
Satu, asas penciptaan segala sesuatu, metode keruhanian dalam mencapai kebenaran
tertinggi, jalan kalbu bukan jalan akal dalam memperoleh pengetahuan mendalam
tentang Yang Satu (Ibid).

Sebagaimana puisi para sufi secara umum, jika tidak bersifat didaktis, suluk-suluk
Sunan Bonang ada yang bersifat lirik. Pengalaman dan gagasan ketasawufan yang
dikemukakan, seperti dalam karya penyair sufi di mana pun, biasanya disampaikan
melalui ungkapan simbolik (tamsil) dan ungkapan metaforis (mutasyabihat). Demikian
dalam mengemukakan pengalaman keruhanian di jalan tasawuf, dalam suluk-suluknya
Sunan Bonang tidak jarang menggunakan kias atau perumpamaan, serta citraan-citraan
simbolik. Citraan-citraan tersebut tidak sedikit yang diambil dari budaya lokal.
Kecenderungan tersebut berlaku dalam sastra sufi Arab, Persia, Turki, Urdu,
Sindhi, Melayu dan lain-lain, dan merupakan prinsip penting dalam sistem sastra
dan estetika sufi (Annemarie Schimmel 1983: ) Karena tasawuf merupakan jalan
cinta, maka sering hubungan antara seorang salik (penempuh suluk) dengan Yang
Satu dilukiskan atau diumpamakan sebagai hubungan antara pencinta (`asyiq) dan
Kekasih (mahbub, ma`syuq).

Drewes (1968, 1978) telah mencatat sejumlah naskah yang memuat suluk-suluk yang
diidentifikasikan sebagai karya Sunan Bonang atau Pangeran Bonang, khususnya
http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02
yang terdapat di Museum Perpustakaan Universitas Leiden, dan memberi catatan
ringkas tentang isi suluk-suluk tersebut. Penggunaan tamsil pencinta dan Kekasih
misalnya terdapat dalam Gita Suluk Latri yang ditulis dalam bentuk tembang wirangrong.
Suluk ini menggambarkan seorang pencinta yang gelisah menunggu kedatangan Kekasihnya.
Semakin larut malam kerinduan dan kegelisahannya semakin mengusiknya, dan semakin
larut malam pula berahinya (`isyq) semakin berkobar. Ketika Kekasihnya datang
dia lantas lupa segala sesuatu, kecuali keindahan wajah Kekasihnya. Demikianlah
sestelah itu sang pencinta akhirnya hanyut dibawa ombak dalam lautan ketakterhinggaan
wujud.

Dalam Suluk Khalifah Sunan Bonang menceritakan kisah-kisah kerohanian para wali
dan pengalaman mereka mengajarkan kepada orang yang ingin memeluk agama Islam.
Suluk ini cukup panjang. Sunan Bonang juga menceritakan pengalamannya selama
beradadi Pasai bersama guru-gurunya serta perjalanannya menunaikan ibadah haji
ke Mekkah. Karya yang tidak kalah penting ialah Suluk Gentur atau Suluk Bentur.
Suluk ini ditulis di dalam tembang wirangrong dan cukup panjang.
Gentur atau bentur berarti lengkap atau sempruna. Di dalamnya digambarja jalan
yang harus ditempuh seorang sufi untuk mencapai kesadaran tertiggi. Dalam perjalanannya
itu ia akan berhadapan dengan maut dan dia akan diikuti oleh sang maut kemana
pun ke mana pun ia melangkah. Ujian terbesar seorang penempuh jalan tasawuf
atau suluk ialah syahadat dacim qacim. Syahadat ini berupa kesaksian tanpa bicara
sepatah kata pun dalam waktu yang lama, sambil mengamati gerik-gerik jasmaninya
dalam menyampaikan isyarat kebenaran dan keunikan Tuhan. Garam jatuh ke dalam
lautan dan lenyap, tetapi tidak dpat dikatakan menjadi laut. Pun tidak hilang
ke dalam kekosongan (suwung). Demikian pula apabila manusia mencapai keadaan
fana tidak lantas tercerap dalam Wujud Mutlak. Yang lenyap ialah kesadaran
akan keberadaan atau kewujudan jasmaninya.

Dalam suluknya ini Sunan Bonang juga mengatakan bahwa pencapaian tertinggi seseorang
ialah fana ruh idafi, iaitu keadaan dapat melihat peralihan atau
pertukaran segala bentuk lahir dan gejala lahir, yang di dalamnya kesadaran
intuititf atau makrifat menyempurnakan penghlihatannya tentang Allah sebagai
Yang Kekal dan Yang Tunggal. Pendek kata dalam fana ruh idafi
seseorang sepenuhnya menyaksikan kebenaran hakiki ayat al-qur`an 28:88, Segala
sesuatu binasa kecuali Wajah-Nya. Ini digambarkan melalui peumpamaan
asyrafi (emas bentukan yang mencair dan hilang kemuliannya, sedangkan substansinya
sebagai emas tidak lenyap. Syahadat dacim qacim adalah kurnia yang dilimpahkan
Tuhan kepada seseorang sehingga ia menyadari dan menyaksikan dirinya bersatu
dengan kehendak Tuhan (sapakarya). Menurut Sunan Bonang, ada tiga macam syahadat:

1. Mutawilah

(muta`awillah di dalam bahasa Arab)
2. Mutawassitah (Mutawassita)
3. Mutakhirah (muta`akhira)

Yang pertama
syahadat (penyaksian) sebelum manusia dilahirkan ke dunia iaitu dari Hari Mitsaq
(Hari Perjanjian) sebagaimana dikemukakan di dalam ayat al-Qur`an 7: 172, Bukankah
Aku ini Tuhanmu? Ya, aku menyaksikan (Alastu bi rabbikum? Qawl bala syahidna).
Yang ke dua ialah syahadat ketika seseorang menyatakan diri memeluk agama Islam
dengan mengucap Tiada Tuhan selain allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.
Yang ketiga adalah syahadat yang diucapkan para Nabi, Wali dan Orang Mukmin
sejati. Bilamana tiga syahadat ini dipadukan menjadi satu maka dapat dimpamakan
seperti kesatuan transenden antara tidakan menulis, tulisan dan lembaran kertas
yang mengandung tulisan itu. Juga dapat diumpamakan sperti gelas, isinya dan
gelas yang isinya penuh. Bilamana gelas bening, isinya akan tampak bening sedang
gelasnya tidak kelihatan. Begitu pula hati seorang mukmin yang merupakan tempat
kediaman Tuhan, akan memperlihatkan kehadiran-Nya bilamana hati itu bersih,
tulus dan jujur.

Di dalam hati yang bersih, dualitas lenyap. Yang kelihatan ialah tindakan cahaya-Nya
yang melihat. Artinya dalam melakukan perbuatan apa saja seorang mukmin senantiasa
http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02
sadar bahwa dia selalu diawasi oleh Tuhan, yang menyebabkannya tidak lalai menjalankan
perintah agama.. Perumpamman ini dapat dirujuk kepada perumpamaan seupa di dalam
Futuh al-Makkiyah karya Ibn `Arabi dan Lamacat karya `Iraqi.

Karya Sunan Bonang juga unik ialah Gita Suluk Wali, untaian puisi-puisi lirik
yang memikat. Dipaparkan bahwa hati seorang yang ditawan oleh rasa cinta itu
seperti laut pasang menghanyutkan atau seperti api yang membakar sesuatu sampai
hangus. Untaian puisi-puisi ini diakhiri dengna pepatah sufi Qalb al-mucmin
bait Allah (Hati seorang mukmin adalah tempat kediaman Tuhan).
Suluk Jebeng. Ditulis dalam tembang Dhandhanggula dan dimulai dengan perbimcanganmengenai
wujud manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi dan bahawasanya manusia itu dicipta
menyerupai gambaran-Nya (mehjumbh dinulu). Hakekat diir yang sejati ini mesti
dikenal supaya perilaku dan amal perubuatan seseorang di dunia mencerminkan
kebenaran. Persatuan manusia dengan Tuhan diumpamakan sebagai gema dengan suara.
Manusia harus mengenal suksma (ruh) yang berada di dalam tubuhnya. Ruh di dalam
tubuh sperti api yang tak kelihatan. Yang nampak hanyalah bara, sinar, nyala,
panas dan asapnya. Ruh dihubungkan dengan wujud tersembunyi, yang pemunculan
dan kelenyapannya tidak mudah diketahui. Ujar Sunan Bonang:

Puncak ilmu yang sempurna
Seperti api berkobar
Hanya bara dan nyalanya
Hanya kilatan cahaya
Hanya asapnya kelihatan
Ketauilah wujud sebelum api menyala
Dan sesudah api padam
Karena serba diliputi rahsia
Adakah kata-kata yang bisa menyebutkan?
Jangan tinggikan diri melampaui ukuran
Berlindunglah semata kepada-Nya
Ketahui, rumah sebenarnya jasad ialah ruh
Jangan bertanya
Jangan memuja nabi dan wali-wali
Jangan mengaku Tuhan
Jangan mengira tidak ada padahal ada
Sebaiknya diam
Jangan sampai digoncang
Oleh kebingungan
Pencapaian sempurna
Bagaikan orang yang sedang tidur
Dengan seorang perempuan, kala bercinta

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02

Mereka karam dalam asyik, terlena
Hanyut dalam berahi
Anakku, terimalah
Dan pahami dengan baik
Ilmu ini memang sukar dicerna

Satu-satunya karangan prosa Sunan Bonang yang dapat diidentifikasi sampai sekarang ialah
Pitutur Seh Bari. Salah satu naskah yang memuat teks karangan prosa Sunan Bonang
ini ialah MS Leiden Cod. Or. 1928. Naskah teks ini telah ditransliterasi ke
dalam tulisan Latin, serta diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Schrieke
dalam disertasi doktornya Het Boek van Bonang (1911). Hoesein Djajadiningrat
juga pernah meneliti dan mengulasnya dalam tulisannya Critische Beschouwing
van de Sedjarah Banten (1913). Terakhir naskah teks ini ditransliterasi
dan disunting oleh Drewes, dalam bukunya The Admonotions of Seh Bari (1978),
disertai ulasan dan terjemahannya dalam bahasa Inggris.

Kitab ini ditulis dalam bentuk dialog atau tanya-jawab antara seorang penuntut
ilmu suluk, Syaful Rijal, dan gurunya Syekh Bari. Nama Syaiful Rijal, yang artinya
pedang yang tajam, biasa dipakai sebagai julukan kepada seorang murid yang tekun
mempelajari tasawuf (al-Attas 1972). Mungkin ini adalah sebutan untuk Sunan
Bonang sendiri ketika menjadi seorang penuntut ilmu suluk. Syekh Bari diduga
adalah guru Sunan Bonang di Pasai dan berasal dari Bar, Khurasan, Persia Timur
Daya (Drewes 1968:12). Secara umum ajaran tasawuf yang dikemukakan dekat dengan
ajaran dua tokoh tasawuf besar dari Persia, Imam al-Ghazali (w. 1111 M) dan
Jalaluddin al-Rumi (1207-1273 M). Nama-nama ahli tasawuf lain dari Persia yang
disebut ialah Syekh Sufi (mungkin Harits al-Muhasibi), Nuri (mungkin Hasan al-Nuri)
dan Jaddin (mungkin Junaid al-Baghdadi). Ajaran ketiga tokoh tersebut merupakan
sumber utama ajaran Imam al-Ghazali (al-Taftazani 1985:6). Istilah yang digunakan
dalam kitab ini, yaitu wirasaning ilmu suluk (jiwa atau inti ajaran
tasawuf) mengingatkan pada pernyataan Imam al-Ghazali bahwa tasawuf merupakan
jiwa ilmu-ilmu agama.

Suluk Wujil

Di antara suluk karya Sunan Bonang yang paling dikenal dan relevan bagi kajianini ialah Suluk Wujil. Dari segi bahasa dan puitika yang digunakan, serta konteks
sejarahnya dengan perkembangan awal sastra Pesisir, SW benar-benar mencerminkan
zaman peralihan Hindu ke Islam (abad ke-15 dan 16 M) yang sangat penting dalam
sejarah Jawa Timur. Teks SW dijumpai antara lain dalam MS Bataviasche Genotschaft
54 (setelah RI merdeka disimpan di Museum Nasional, kini di Perpustakaan Nasional
Jakarta) dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dilakukan oleh Poerbatjaraka
dalam tulisannya De Geheime Leer van Soenan Bonang (Soeloek Woedjil)
(majalah Djawa vol. XVIII, 1938). Terjemahannya dalam bahasa Indonesia pernah
dilakukan oleh Suyadi Pratomo (1985), tetapi karena tidak memuaskan, maka untuk
kajian ini kami berusaha menerjemahkan sendiri teks hasil transliterasi Poerbatjaraka.

Sebagai karya zaman peralihan Hindu ke Islam, pentingnya karya Sunan Bonang
ini tampak dalam hal-hal seperti berikut: Pertama, dalam SW tergambar suasana
kehidupan badaya, intelektual dan keagamaan di Jawa pada akhir abad ke-15, yang
sedang beralih kepercayaan dari agama Hindu ke agama Islam. Di arena politik
peralihan itu ditandai denga runtuhnya Majapahit, kerajaan besar Hindu terakhir
di Jawa, dan bangunnya kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama. Demak didirikan
oleh Raden Patah, putera raja Majapahit Prabu Kertabumi atau Brawijaya V daripada
perkawinannya dengan seorang puteri Cina yang telah memeluk Islam. Dengan runtuhnya
Majapahit terjadilah perpindahan kegiatan budaya dan intelektual dari sebuah
kerajaan Hindu ke sebuah kerajaan Islam dan demikian pula tata nilai kehidupan
masyarakat pun berubah.

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02

Di lapangan sastra peralihan ini dapat dilihat dengan berhentinya kegiatan sastera
Jawa Kuna setelah penyair terakhir Majapahit, Mpu Tantular dan Mpu Tanakung,
meninggal dunia pda pertengahan abad ke-15 tanpa penerus yang kuat. Kegiatan
pendidikan pula mula beralih ke pusat-pusat baru di daerah pesisir. Dari segi
bahasa suluk ini memperlihatkan keanehan-keanehan bahasa Jawa Kuna zaman
Hindu (Purbatjaraka: 1938) karena memang ditulis pada zaman permulaan
munculnya bahasa Jawa Madya. Dari segi puitika pula, cermin zaman peralihan
begitu ketara. Penulisnya menggunakan tembang Aswalalita yang agak menyimpang,
selain tembang Dhandhanggula. Aswalalita adalah metrum Jawa Kuna yang dicipta
berdasarkan puitika Sanskerta. Setelah wafatnya Sunan Bonang tembang ini tidak
lagi digunakan oleh para penulis tembang di Jawa.

Sunan Bonang sebagai seorang penulis Muslim awal dalam sastra Jawa, menunjukkan
sikap yang sangat berbeda dengan para penulis Muslim awal di Sumatra. Yang terakhir
sudah sejak awal kegiatan kreatifnya menggunakan huruf Jawi atau Arab Melayu,
sedangkan Sunan Bonang dan penulis-penulis Muslim Jawa yang awal masih menggunakan
huruf Jawa, dan baru ketika agama Islam telah tersebar luas huruf Arab digunakan
untuk menulis teks-teks berbahasa Jawa. Dalam penulisan puisinya, Sunan Bonang
juga banyak menggunakan tamsil-tamsil yang tidak asing dalam kebudayaan Jawa
pada masa itu. Misalnya tamsil wayang, dalang dan lakon cerita pewayangan seperti
Perang Bharata antara Kurawa dan Pandawa. Selain itu dia juga masih mempertahankan
penggunaan bentuk tembang Jawa Kuno, yaitu aswalalita, yang didasarkan pada
puitika Sanskerta. Dengan cara demikian, kehadiran karyanya tidak dirasakan
sebagai sesuatu yang asing bagi pembaca sastra Jawa, malahan dipandangnya sebagai
suatu kesinambungan.

Kedua, pentingnya Suluk Wujil karena renungan-renungannya tentang masalah hakiki
di sekitar wujud dan rahasia terdalam ajaran agama, memuaskan dahaga kaum terpelajar
Jawa yang pada umumnya menyukai mistisisme atau metafisika, dan seluk beluk
ajaran keruhanian. SW dimulai dengan pertanyaan metafisik yang esensial dan
menggoda sepanjang zaman, di Timur maupun Barat:

1
Dan warnanen sira ta Pun Wujil
Matur sira ing sang Adinira
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat Panenggrane
Samungkem ameng Lebu?
Talapakan sang Mahamuni
Sang Adhekeh in Benang,
mangke atur Bendu
Sawetnya nedo jinarwan
Saprapating kahing agama kang sinelit
Teka ing rahsya purba

2
Sadasa warsa sira pun Wujil
Angastupada sang Adinira
Tan antuk warandikane
Ri kawijilanipun

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02

Sira wujil ing Maospait
Ameng amenganira
Nateng Majalanggu
Telas sandining aksara
Pun Wujil matur marang Sang Adi Gusti
Anuhun pangatpada

3

Pun Wujil byakteng kang anuhun Sih
Ing talapakan sang Jati Wenang
Pejah gesang katur mangke
Sampun manuh pamuruh
Sastra Arab paduka warti
Wekasane angladrang
Anggeng among kayun
Sabran dina raraketan
Malah bosen kawula kang aludrugi
Ginawe alan-alan

4

Ya pangeran ing sang Adigusti
Jarwaning aksara tunggal
Pengiwa lan panengene
Nora na bedanipun
Dening maksih atata gendhing
Maksih ucap-ucapan
Karone puniku
Datan polih anggeng mendra-mendra
Atilar tresna saka ring Majapait
Nora antuk usada

5

Ya marma lunganging kis ing wengi
Angulati sarasyaning tunggal
Sampurnaning lampah kabeh
Sing pandhita sundhuning

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02

Angulati sarining urip
Wekasing jati wenang
Wekasing lor kidul
Suruping radya wulan
Reming netra lalawa suruping pati
Wekasing ana ora

Artinya,

lebih kurang:

1
Inilah ceritera si Wujil
Berkata pada guru yang diabdinya
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat nama gurunya
Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung
Yang tinggal di desa Bonang
Ia minta maaf
Ingin tahu hakikat
Dan seluk beluk ajaran agama
Ssampai rahsia terdalam

2
Sepuluh tahun lamanya
Sudah Wujil
Berguru kepada Sang Wali
Namun belum mendapat ajaran utama
Ia berasal dari Majapahit
Bekerja sebagai abdi raja
Sastra Arab telah ia pelajari
Ia menyembah di depan gurunya
Kemudian berkata
Seraya menghormat
Minta maaf

3

Dengan tulus saya mohon
Di telapak kaki tuan Guru
Mati hidup hamba serahkan

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02

Sastra Arab telah tuan ajarkan
Dan saya telah menguasainya
Namun tetap saja saya bingung
Mengembara kesana-kemari
Tak berketentuan.
Dulu hamba berlakon sebagai pelawak
Bosan sudah saya
Menjadi bahan tertawaan orang

4

Ya Syekh al-Mukaram!
Uraian kesatuan huruf
Dulu dan sekarang
Yang saya pelajari tidak berbeda
Tidak beranjak dari tatanan lahir
Tetap saja tentang bentuk luarnya
Saya meninggalkan Majapahit
Meninggalkan semua yang dicintai
Namun tak menemukan sesuatu apa
Sebagai penawar

5

Diam-diam saya pergi malam-malam
Mencari rahsia Yang Satu dan jalan sempurna
Semua pendeta dan ulama hamba temui
Agar terjumpa hakikat hidup
Akhir kuasa sejati
Ujung utara selatan
Tempat matahari dan bulan terbenam
Akhir mata tertutup dan hakikat maut
Akhir ada dan tiada

Pertanyaan-pertanyaan
Wujil kepada gurunya merupakan pertanyaan universal dan eksistensial, serta
menukik hingga masalah paling inti, yang tidak bisa dijawab oleh ilmu-ilmu lahir.
Terbenamnya matahari dan bulan, akhir utara dan selatan, berkaitan dengan kiblar
dan gejala kehidupan yang senantiasa berubah. Jawabannya menghasilkan ilmu praktis
dan teoritis seperti fisika, kosmologi, kosmogeni, ilmu pelayaran, geografi
dan astronomi. Kapan mata tertutup berkenaan dengan pancaindra dan gerak tubuh
kita. Sadar dan tidak sadar, bingung dan gelisah, adalah persoalan psikologi.

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02

Ada dan tiada merupakan persoalan metafisika. Setiap jawaban yang diberikan
sepanjang zaman di tempat yang berbeda-beda, selalu uni, sebagaimana pertanyaan
terhadap hakikat hidup dan kehidupan. Lantas apakah dalam hidupnya manusia benar-benar
menguasai dirinya dan menentukan hidupnya sendiri? Siapa kuasa sejati itu? Persoalan
tentang rahasia Yang Satu akan membawa orang pada persoalan tentang Yang Abadi,
Yang Maha Hidup, Wujud Mutlak yang ada-Nya tidak tergantung pada sesuatu yang lain.

Tampaknya pertanyaan itu memang ditunggu oleh Sunan Bonang, sebab hanya melalui
pertanyaan seperti itu dia dapat menyingkap rahasia ilmu tasawuf dan relevansinya,
kepada Wujil. Maka Sunan Bonang pun menjawab:

6
Sang Ratu Wahdat mesem ing lathi
Heh ra Wujil kapo kamangkara
Tan samanya pangucape
Lewih anuhun bendu
Atunira taha managih
Dening geng ing sakarya
Kang sampun alebu
Tan padhitane dunya
Yen adol warta tuku warta ning tulis
Angur aja wahdat

7
Kang adol warta tuhu warti
Kumisum kaya-kaya weruha
Mangke ki andhe-andhene
Awarna kadi kuntul
Ana tapa sajroning warih
Meneng tan kena obah
Tinggalipun terus
Ambek sadu anon mangsa
Lirhantelu outihe putih ing jawi
Ing jro kaworan rakta

8
Suruping arka aganti wengi
Pun Wujil anuntu maken wraksa
Badhi yang aneng dagane
Patapane sang Wiku
Ujung tepining wahudadi

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02

Aran dhekeh ing Benang
Saha-saha sunya samun
Anggaryang tan ana pala boga
Ang ing ryaking sagara nempuki
Parang rong asiluman

9
Sang Ratu Wahdat lingira aris
Heh ra Wujil marangke den enggal
Tur den shekel kukuncire
Sarwi den elus-elus
Tiniban sih ing sabda wadi
Ra Wujil rungokna
Sasmita katenggun
Lamun sira kalebua
Ing naraka isung dhewek angleboni
Aja kang kaya sira

11
Pangestisun ing sira ra Wujil
Den yatna uripira neng dunya
Ywa sumambar angeng gawe
Kawruhana den estu
Sariranta pon tutujati
Kang jati dudu sira
Sing sapa puniku
Weruh rekeh ing sariri
Mangka saksat wruh sira
Maring Hyang Widi
Iku marga utama

Artinya

lebih kurang:

6
Ratu Wahdat tersenyum lembut
Hai Wujil sungguh lancang kau
Tuturmu tak lazim

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02

Berani menagih imbalan tiggi
Demi pengabdianmu padaku
Tak patut aku disebut Sang Arif
Andai hanya uang yang diharapkan
Dari jerih payah mengajarkan ilmu
Jika itu yang kulakukan
Tak perlu aku menjalankan tirakat

7
Siapa mengharap imbalan uang
Demi ilmu yang ditulisnya
Ia hanya memuaskan diri sendiri
Dan berpura-pura tahu segala hal
Seperti bangau di sungai
Diam, bermenung tanpa gerak.
Pandangnya tajam, pura-pura suci
Di hadapan mangsanya ikan-ikan
Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
Namuni isinya berwarna kuning

8

Matahari terbenam, malam tiba

Wujil menumpuk potongan kayu

Membuat perapian, memanaskan

Tempat pesujudan Sang Zahid

Di tepi pantai sunyi di Bonang

Desa itu gersang

Bahan makanan tak banyak

Hanya gelombang laut

Memukul batu karang

Dan menakutkan

9

Sang Arif berkata lembut

Hai Wujil, kemarilah!

Dipegangnya kucir rambut Wujil

Seraya dielus-elus

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02
Tanda kasihsayangnya

Wujil, dengar sekarang

Jika kau harus masuk neraka

Karena kata-kataku

Aku yang akan menggantikan tempatmu

11

Ingatlah Wujil, waspadalah!

Hidup di dunia ini

Jangan ceroboh dan gegabah

Sadarilah dirimu

Bukan yang Haqq

Dan Yang Haqq bukan dirimu

Orang yang mengenal dirinya

Akan mengenal Tuhan

Asal usul semua kejadian

Inilah jalan makrifat sejati

Dalam

bait-bait yang telah dikutip dapat kita lihat bahwa pada permulaan suluknya

Sunan Bonang menekankan bahwa Tuhan dan manusia itu berbeda. Tetapi karena manusia

adalah gambaran Tuhan, maka pengetahuan diri dapat membawa seseorang

mengenal Tuhannya. Pengetahuan diri di sini terangkum dalam pertanyaan:

Apa dan siapa sebenarnya manusia itu? Bagaimana kedudukannya di atas bumi? Dari

mana ia berasal dan kemana ia pergi setelah mati? Pertama-tama, diri

yang dimaksud penulis sufi ialah diri ruhani, bukan diri

jasmani, karena ruhlah yang merupakan esensi kehidupan manusia, bukan

jasmaninya. Kedua kali, sebagaimana dikemukakan dalam al-Quran, surat

al-Baqarah, manusia dicipta oleh Allah sebagai khalifah-Nya di atas bumi

dan sekaligus sebagai hamba-Nya. Itulah hakikat kedudukan manusia

di muka bumi. Ketiga, persoalan dari mana berasal dan kemana perginya tersimpul

dari ucapan Inna li Allah wa inna li Allahi rajiun (Dari

Allah kembali ke Allah).

Demikianlah sebagai karya bercorak tasawuf paling awal dalam sastra Jawa, kedudukan

Suluk Wujil dan suluk-suluk Sunan Bonang yang lain sangatlah penting. Sejak

awal pengajarannya tentang tasawuf, Sunan Bonang menekankan bahwa konsep fana

atau persatuan mistik dalam tasawuf tidak mengisyaratkan kesamaan manusia dengan

Tuhan, yaitu yang menyembah dan Yang Disembah.

Seperti penyair sufi Arab, Persia dan Melayu, Sunan Bonang dalam mengungkapkan

ajaran tasawuf dan pengalaman keruhanian yang dialaminya di jalan tasawuf

menggunakan baik simbol (tamsil) yang diambil dari budaya Islam universal maupun

dari budaya lokal. Tamsil-tamsil dari budaya Islam universal yang digunakan

ialah burung, cermin, laut, Mekkah (tempat Kabah atau rumah Tuhan) berada,

sedangkan dari budaya lokal antara lain ialah tamsil wayang, lakon perang Kurawa

dan Pandawa (dari kisah Mahabharata) dan bunga teratai. Tamsil-tamsil ini secara

berurutan dijadikan sarana oleh Sunan Bonang untuk menjelaskan tahap-tahap perjalanan

jiwa manusia dalam upaya mengenal dirinya yang hakiki, yang melaluinya pada

akhirnya mencapai makrifat, yaitu mengenal Tuhannya secara mendalam melalui

penyaksian kalbunya.

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02
Tasawuf

dan Pengetahuan Diri

Secara keseluruhan jalan tasawuf merupakan metode-metode untuk mencapai pengetahuan

diri dan hakikat wujud tertinggi, melalui apa yang disebut sebagai jalan Cinta

dan penyucian diri. Cinta yang dimaksudkan para sufi ialah kecenderungan kuat

dari kalbu kepada Yang Satu, karena pengetahuan tentang hakikat ketuhanan hanya

dicapai tersingkapnya cahaya penglihatan batin (kasyf) dari dalam kalbu manusia

(Taftazani 1985:56). Tahapan-tahapan jalan tasawuf dimulai denganpenyucian

diri, yang oleh Mir Valiuddin (1980;1-3) dibagi tiga: Pertama, penyucian

jiwa atau nafs (thadkiya al-nafs); kedua, pemurnian kalbu (tashfiya al-qalb);

ketiga, pengosongan pikiran dan ruh dari selain Tuhan (takhliya al-sirr).

Istilah lain untuk metode penyucian diri ialah mujahadah, yaitu perjuangan batin

untuk mengalah hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungan buruknya. Hawa nafsu

merupakan representasi dari jiwa yang menguasai jasmani manusia (diri

jasmani). Hasil dari mujahadah ialah musyahadah da mukasyafah. Musyahadah

ialah mantapnya keadaan hati manusia sehingga dapat memusatkan penglihatannya

kepada Yang Satu, sehingga pada akhirnya dapat menyaksikan kehadiran rahasia-Nya

dalam hati. Mukasyafah ialah tercapainya kasyf, yaitu tersingkapnya tirai yang

menutupi cahaya penglihatan batin di dalam kalbu.

Penyucian jiwa dicapai dengan memperbanyak ibadah dan amal saleh. Termasuk ke

dalam ibadah ialah melaksanakan salat sunnah, wirid, zikir, mengurangi makan

dan tidur untuk melarih ketangguhan jiwa. Semua itu dikemukakan oleh Sunan Bonang

dalam risalahnya Pitutur Seh Bari dan juga oleh Hamzah Fansuri dalam Syarab

al-`Asyiqin (Minuman Orang Berahi). Sedangkan pemurnian kalbu

ialah dengan membersihkan niat buruk yang dapat memalingkan hati dari Tuhan

dan melatih kalbu dengan keinginan-keinginan yang suci. Sedangkan pengosongan

pikiran dilakukan dengan tafakkur atau meditasi, pemusatan pikiran kepada Yang

Satu. Dalam sejarah tasawuf ini telah sejak lama ditekankan, terutama oleh Sanai,

seorang penyair sufi Persia abad ke-12 M. Dengan tafakkur, menurut Sanai,

maka pikiran seseorang dibebaskan dari kecenderungan untuk menyekutuhan Tuhan

dan sesembahan yang lain (Smith 1972:76-7).

Dalam Suluk Wujil juga disebutkan bahwa murid-muridnya menyebut Sunan Bonang

sebagai Ratu Wahdat. Istilah wahdat merujuk pada konsep sufi tentang

martabat (tinbgkatan) pertama dari tajalli Tuhan atau pemanifestasian ilmu Tuhan

atau perbendaharaan tersembunyi-Nya (kanz makhfiy) secara bertahap dari ciptaan

paling esensial dan bersifat ruhani sampai ciptaan yang bersifat jasmani. Martabat

wahdat ialah martabat keesaan Tuhan, yaitu ketika Tuhan menampakkan keesaan-Nya

di antara ciptaan-ciptaan-Nya yang banyak dan aneka ragam. Pada peringkat ini

Allah menciptakan esensi segala sesuatu (ayan tsabitah) atau hakikat

segala sesuatu (haqiqat al-ashya). Esensi segala sesuatu juga disebut bayangan

pengetahuan Tuhan (suwar al-ilmiyah) atau hakikat Muhammad yang berkilau-kilauan

(nur muhammad). Ibn `Arabi menyebut gerak penciptaaan ini sebagai gerakan Cinta

dari Tuhan, berdasar hadis qudsi yang berbunyi, Aku adalah perbendaharaan

tersembunyi, Aku cinta (ahbabtu) untuk dikenal, maka aku mencipta hingga Aku

dikenal (Abdul Hadi W. M. 2002:55-60). Maka sebutan Ratu Wahdat dalam

suluk ini dapat diartikan sebagai orang yang mencapai martabat tinggi di jalan

Cinta, yaitu memperoleh makrifat dan telah menikmati lezatnya persatuan ruhani

dengan Yang Haqq.

Pengetahuan Diri, Cermin dan Kabah

Secara keseluruhan bait-bait dalam Suluk Wujil adalah serangkaian jawaban Sunan

Bonang terhadap pertanyaan-pertanyaan Wujil tentang aka yang disebut Ada dan

Tiada, mana ujung utara dan selatan, apa hakikat kesatuan huruf dan lain-lain.

Secara berurutan jawaban yang diberikan Sunan Bonang berkenaan dengan soal:

(1) Pengetahuan diri, meliputi pentingnya pengetahuan ini dan hubungannya dengan

hakikat salat atau memuja Tuhan. Simbol burung dan cermin digunakan untuk menerangkan

masalah ini; (2) Hakikat diam dan bicara; (3) Kemauan murni sebagai sumber kebahagiaan

ruhani; (4) Hubungan antara pikiran dan perbuatan manusia dengan kejadian di

dunia; (5) Falsafah Nafi Isbat serta kaitannya dengan makna simbolik pertunjukan

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02
wayang, khususnya lakon perang besar antara Kurawa dan Pandawa dari epik Mahabharata;

(6) Gambaran tentang Mekkah Metafisisik yang merupakan pusat jagat raya, bukan

hanya di alam kabir (macrokosmos) tetapi juga di alam saghir (microcosmos),

yaitu dalam diri manusia yang terdalam; (7) Perbedaan jalan asketisme atau zuhud

dalam agama Hindu dan Islam.

Sunan Bonang menghubungkan hakikat salat berkaitan dengan pengenalan diri, sebab

dengan melakukan salat seseorang sebenarnya berusaha mengenal dirinya sebagai

yang menyembah, dan sekaligus berusaha mengenal Tuhan sebagai

Yang Disembah. Pada bait ke-12 dan selanjutnya Sunan Bonang menulis:

12

Kebajikan utama (seorang Muslim)

Ialah mengetahui hakikat salat

Hakikat memuja dan memuji

Salat yang sebenarnya

Tidak hanya pada waktu isya dan maghrib

Tetapi juga ketika tafakur

Dan salat tahajud dalam keheningan

Buahnya ialah mnyerahkan diri senantiasa

Dan termasuk akhlaq mulia

13

Apakah salat yang sebenar-benar salat?

Renungkan ini: Jangan lakukan salat

Andai tiada tahu siapa dipuja

Bilamana kaulakukan juga

Kau seperti memanah burung

Tanpa melepas anak panah dari busurnya

Jika kaulakukan sia-sia

Karena yang dipuja wujud khayalmu semata

14

Lalu apa pula zikir yang sebenarnya?

Dengar: Walau siang malam berzikir

Jika tidak dibimbing petunjuk Tuhan

Zikirmu tidak sempurna

Zikir sejati tahu bagaimana

Datang dan perginya nafas

Di situlah Yang Ada, memperlihatkan

Hayat melalui yang empat

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02

15

Yang empat ialah tanah atau bumi

Lalu api, udara dan air

Ketika Allah mencipta Adam

Ke dalamnya dilengkapi

Anasir ruhani yang empat:

Kahar, jalal, jamal dan kamal

Di dalamnya delapan sifat-sifat-Nya

Begitulah kaitan ruh dan badan

Dapat dikenal bagaimana

Sifat-sifat ini datang dan pergi, serta ke mana

16

Anasir tanah melahirkan

Kedewasaan dan keremajaan

Apa dan di mana kedewasaan

Dan keremajaan? Dimana letak

Kedewasaan dalam keremajaan?

Api melahirkan kekuatan

Juga kelemahan

Namun di mana letak

Kekuatan dalam kelemahan?

Ketahuilah ini

17

Sifat udara meliputi ada dan tiada

Di dalam tiada, di mana letak ada?

Di dalam ada, di mana tempat tiada?

Air dua sifatnya: mati dan hidup

Di mana letak mati dalam hidup?

Dan letak hidup dalam mati?

Kemana hidup pergi

Ketika mati datang?

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02
Jika kau tidak mengetahuinya

Kau akan sesat jalan

18

Pedoman hidup sejati

Ialah mengenal hakikat diri

Tidak boleh melalaikan shalat yang khusyuk

Oleh karena itu ketahuilah

Tempat datangnya yang menyembah

Dan Yang Disembah

Pribadi besar mencari hakikat diri

Dengan tujuan ingin mengetahui

Makna sejati hidup

Dan arti keberadaannya di dunia

19

Kenalilah hidup sebenar-benar hidup

Tubuh kita sangkar tertutup

Ketahuilah burung yang ada di dalamnya

Jika kau tidak mengenalnya

Akan malang jadinya kau

Dan seluruh amal perbuatanmu, Wujil

Sia-sia semata

Jika kau tak mengenalnya.

Karena itu sucikan dirimu

Tinggalah dalam kesunyian

Hindari kekeruhan hiruk pikuk dunia

Pertanyaan-pertanyaan

itu tidak diberi jawaban langsung, melainkan dengan isyarat-isyarat yang mendorong

Wujil melakukan perenungan lebih jauh dan dalam. Sunan Bonang kemudian berkata

dan perkatannya semakin memasuki inti persoalan:

20

Keindahan, jangan di tempat jauh dicari

Ia ada dalam dirimu sendiri

Seluruh isi jagat ada di sana

Agar dunia ini terang bagi pandangmu

Jadikan sepenuh dirimu Cinta
http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02

Tumpukan pikiran, heningkan cipta

Jangan bercerai siang malam

Yang kaulihat di sekelilingmu

Pahami, adalah akibat dari laku jiwamu!

21

Dunia ini Wujil, luluh lantak

Disebabkan oleh keinginanmu

Kini, ketahui yang tidak mudah rusak

Inilah yang dikandung pengetahuan sempurna

Di dalamnya kaujumpai Yang Abadi

Bentangan pengetahuan ini luas

Dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya

Orang yang mengenal hakikat

Dapat memuja dengan benar

Selain yang mendapat petunjuk ilahi

Sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini

22

Karena itu, Wujil, kenali dirimu

Kenali dirimu yang sejati

Ingkari benda

Agar nafsumu tidur terlena

Dia yang mengenal diri

Nafsunya akan terkendali

Dan terlindung dari jalan

Sesat dan kebingungan

Kenal diri, tahu kelemahan diri

Selalu awas terhadap tindak tanduknya

23

Bila kau mengenal dirimu

Kau akan mengenal Tuhanmu

Orang yang mengenal Tuhan

Bicara tidak sembarangan

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02
Ada yang menempuh jalan panjang

Dan penuh kesukaran

Sebelum akhirnya menemukan dirinya

Dia tak pernah membiarkan dirinya

Sesat di jalan kesalahan

Jalan yang ditempuhnya benar

24

Wujud Tuhan itu nyata

Mahasuci, lihat dalam keheningan

Ia yang mengaku tahu jalan

Sering tindakannya menyimpang

Syariat agama tidak dijalankan

Kesalehan dicampakkan ke samping

Padahal orang yang mengenal Tuhan

Dapat mengendalikan hawa nafsu

Siang malam penglihatannya terang

Tidak disesatkan oleh khayalan

Selanjutnya

dikatakan bahwa diam yang hakiki ialah ketika seseorang melaksanakan salat tahajud,

yaitu salat sunnah tengah malam setelah tidur. Salat semacam ini merupakan cara

terbaik mengatasi berbagai persoalan hidup. Inti salat ialah bertemu muka dengan

Tuhan tanpa perantara. Jika seseorang memuja tidak mengetahui benar-benar sispa

yang dipuja, maka yang dilakukannya tidak bermanfaat. Salat yang sejati mestilah

dilakukan dengan makrifat. Ketika melakukan salat, semestinya seseorang mampu

membayangkan kehadiran dirinya bersama kehadiran Tuhan. Keadaan dirinya lebih

jauh harus dibayangkan sebagai tidak ada, sebab yang sebenar-benar

Ada hanyalah Tuhan, Wujud Mutlak dan Tunggal yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Sedangkan adanya makhluq-makhluq, termasuk manusia, sangat tergantung kepada

Adanya Tuhan.

35

Diam dalam tafakur, Wujil

Adalah jalan utama (mengenal Tuhan)

Memuja tanpa selang waktu

Yang mengerjakan sempurna (ibadahnya)

Disebabkan oleh makrifat

Tubuhnya akan bersih dari noda

Pelajari kaedah pencerahan kalbu ini

Dari orang arif yang tahu

Agar kau mencapai hakikat
http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02

Yang merupakan sumber hayat

36

Wujil, jangan memuja

Jika tidak menyaksikan Yang Dipuja

Juga sia-sia orang memuja

Tanpa kehadiran Yang Dipuja

Walau Tuhan tidak di depan kita

Pandanglah adamu

Sebagai isyarat ada-Nya

Inilah makna diam dalam tafakur

Asal mula segala kejadian menjadi nyata

Setelah

itu Sunan Bonang lebih jauh berbicara tentang hakikat murni kemauan.

Kemauan yang sejati tidak boleh dibatasi pada apa yang dipikirkan. Memikirkan

atau menyebut sesuatu memang merupakan kemauan murni. Tetapi kemauan murni lebih

luas dari itu.

38

Renungi pula, Wujil!

Hakikat sejati kemauan

Hakikatnya tidak dibatasi pikiran kita

Berpikir dan menyebut suatu perkara

Bukan kemauan murni

Kemauan itu sukar dipahami

Seperti halnya memuja Tuhan

Ia tidak terpaut pada hal-hal yang tampak

Pun tidak membuatmu membenci orang

Yang dihukum dan dizalimi

Serta orang yang berselisih paham

39

Orang berilmu

Beribadah tanpa kenal waktu

Seluruh gerak hidupnya

Ialah beribadah

Diamnya, bicaranya

Dan tindak tanduknya

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02
Malahan getaran bulu roma tubuhnya

Seluruh anggota badannya

Digerakkan untuk beribadah

Inilah kemauan murni

40

Kemauan itu, Wujil!

Lebih penting dari pikiran

Untuk diungkapkan dalam kata

Dan suara sangatlah sukar

Kemauan bertindak

Merupakan ungkapan pikiran

Niat melakukan perbuatan

Adalah ungkapan perbuatan

Melakukan shalat atau berbuat kejahatan

Keduanya buah dari kemauan

Di sini

Sunan Bonang agaknya berpendapat bahwa kemauan atau kehendak (iradat) , yaitu

niat dan iktiqad, mestilah diperbaiki sebelum seseorang melaksanakan sesuatu

perbuatan yang baik. Perbuatan yang baik datang dari kemauan baik, dan sebaliknya

kehendak yang tidak baik melahirkan tindakan yang tidak baik pula. Apa yang

dikatakan oleh Sunan Bonang dapat dirujuk pada pernyataan seorang penyair Melayu

(anonim) dalam Syair Perahu, seperti berikut:

Inilah

gerangan suatu madah

Mengarangkan syair terlalu indah

Membetulkan jalan tempat berpindah

Di sanalah iktiqad diperbaiki sudah

Wahai

muda kenali dirimu

Ialah perahu tamsil tubuhmu

Tiada berapa lama hidupmu

Ke akhirat jua kekal diammu

Hai

muda arif budiman

Hasilkan kemudi dengan pedoman

Alat perahumu jua kerjakan

Itulah jalan membetuli insan

La ilaha illa Allah tempat mengintai

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02
Medan yang qadim tempat berdamai

Wujud Allah terlalu bitai

Siang malam jangan bercerai

(Doorenbos

1933:33)

Tamsil

Islam universal lain yang menonjol dalam SulukWujil ialah cermin beserta pasangannya

gambar atau bayang-bayang yang terpantul dalam cermin, serta Mekkah. Para sufi

biasa menggunakan tamsil cermin, misalnya Ibn `Arabi. Sufi abad ke-12 M dari

Andalusia ini menggunakannya untuk menerangkan falsafahnya bahwa Yang Satu meletakkan

cermin dalam hati manusia agar Dia dapat melihat sebagian dari gambaran Diri-Nya

(kekayaan ilmu-Nya atau perbendaharaan-Nya yang tersembunyi) dalam ciptaan-Nya

yang banyak dan anekaragam. Yang banyak di alam kejadian (alam al-khalq) merupakan

gambar atau bayangan dari Pelaku Tunggal yang berada di tempat rahasia dekat

cermin (Abu al-Ala Affifi 1964:15-7).

Pada pupuh atau bait ke-74 diceritakan Sunan Bonang menyuruh muridnya Ken Satpada

mengambil cermin dan menaruhnya di pohon Wungu. Kemudian dia dan Wujil disuruh

berdiri di muka cermin. Mereka menyaksikan dua bayangan dalam cermin. Kemudian

Sunan Bonang menyuruh salah seorang dari mereka menjauh dari cermin, sehingga

yang tampak hanya bayangan satu orang. Maka Sunan Bonang bertanya: Bagaimana

bayang-bayang datang/Dan kemana dia menghilang? (bait 81). Melalui contoh

datang dan perginya bayangan dari cermin, Wujil kini tahu bahwa Dalam

Ada terkandung tiada, dan dalam tiada terkandung ada Sang Guru membenarkan

jawaban sang murid. Lantas Sunan Bonang menerangkan aspek nafi (penidakan) dan

isbat (pengiyaan) yang terkandung dalam kalimah La ilaha illa Allah (Tiada tuhan

selain Allah). Yang dinafikan ialah selain dari Allah, dan yang diisbatkan sebagai

satu-satunya Tuhan ialah Allah.

Pada bait atau pupuh 91-95 diceritakan perjalanan seorang ahli tasawuf ke pusat

renungan yang bernama Mekkah, yang di dalamnya terdapat rumah Tuhan atau Baitullah.

Mekkah yang dimaksud di sini bukan semata Mekkah di bumi, tetapi Mekkah spiritual

yang bersifat metafisik. Kabah yang ada di dalamnya merupakan tamsil

bagi kalbu orang yang imannya telah kokoh. Abdullah Anshari, sufi abad ke-12

M, misalnya berpandapat bahwa Kabah yang di Mekkah, Hejaz, dibangun oleh

Nabi Ibrahim a.s. Sedangkan Kabah dalam kalbu insan dibangun oleh Tuhan

sebagai pusat perenungan terhadap keesaan Wujud-Nya (Rizvi 1978:78).

Sufi Persia lain abad ke-11 M, Ali Utsman al-Hujwiri dalam kitabnya menyatakan

bahwa rumah Tuhan itu ada dalam pusat perenungan orang yang telah mencapai musyahadah.

Kalau seluruh alam semesta bukan tempat pertemuan manusia dengan Tuhan, dan

juga bukan tempat manusia menikmati hiburan berupa kedekatan dengan Tuhan, maka

tidak ada orang yang mengetahui makna cinta ilahi. Tetapi apabila orang memiliki

penglihatan batin, maka seluruh alam semesta ini akan merupakan tempat sucinya

atau rumah Tuhan. Langkah sufi sejati sebenarnya merupakan tamsil perjalanan

menuju Mekkah. Tujuan perjalanan itu bukan tempat suci itu sendiri, tetapi perenungan

keesaan Tuhan (musyahadah), dan perenungan dilakukan disebabkan kerinduan yang

mendalam dan luluhnya diri seseorang (fana) dalam cinta tanpa akhir (Kasyful

Mahjub 293-5).

Berdasarkan uraian tersebut, dapatlah dipahami apabila dalam Suluk Wujil dikatakan,

Tidak ada orang tahu di mana Mekkah yang hakiki itu berada, sekalipun

mereka melakukan perjalanan sejak muda sehingga tua renta. Mereka tidak akan

sampai ke tujuan. Kecuali apabila seseorang mempunyai bekal ilmu yang cukup,

ia akan dapat sampai di Mekkah dan malahan sesudah itu akan menjadi seorang

wali. Tetapi ilmu semacam itu diliputi rahasia dan sukar diperoleh. Bekalnya

bukan uang dan kekayaan, tetapi keberanian dan kesanggupan untuk mati dan berjihad

lahir batin, serta memiliki kehalusan budi pekerti dan menjauhi keseangan duniawi.

Di dalam masjid di Mekkah itu terdapat singgasana Tuhan, yang berada di tengah-tengah.

Singgasana ini menggantung di atas tanpa tali. Dan jika orang melihatnya dari

bawah, maka tampak bumi di atasnya. Jika orang melihat ke barat, ia akan melihat

timur, dan jika melihat timur ia akan menyaksikan barat. Di situ pemandangan

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02
terbalik. Jika orang melihat ke selatan yang tampak ialah utara, sangat indah

pemandangannya. Dan jika ia melihat ke utara akan tampak selatan, gemerlapan

seperti ekor burung merak. Apabila satu orang shalat di sana, maka hanya ada

ruangan untuk satu orang saja. Jika ada dua atau tiga orang shalat, maka ruangan

itu juga akan cukup untuk dua tiga orang. Apabila ada 10.000 orang melakukan

shalat di sana, maka Ka`bah dapat menampung mereka semua. Bahkan seandainya

seluruh dunia dimasukkan ke dalamnya, seluruh dunia pun akan tertampung juga.

Wujil menjadi tenang setelah mendengarkan pitutur gurunya. Akan tetapi dia tetap

merasa asing dengan lingkungan kehidupan keagamaan yang dijumpainya di Bonang.

Berbeda dengan di Majapahit dahulu, untuk mencapai rahsia Yang Satu orang harus

melakukan tapa brata dan yoga, pergi jauh ke hutan, menyepi dan melakukan kekearsan

ragawi. Di Pesantren Bonang kehidupan sehari-hari berjalan seprti biasa. Shalat

fardu lima waktu dijalankan dengan tertib. Majlis-majlis untuk membicarakan

pengalaman kerohanian dan penghayatan keagamaan senantiasa diadakan. Di sela-sela

itu para santri mengerjakan pekerjaan sehari-hari, di samping mengadakan pentas-pentas

seni dan pembacaan tembang

Sunan Bonang menjelaskan bahwa seperti ibadat dalam agama Hindu yang dilakukan

secara lahir dan batin, demikian juga di dalam Islam. Malahan di dalam agama

Islam, ibadat ini diatur dengan jelas di dalam syariat. Bedanya di dalam Islam

kewajiban-kewajiban agama tidak hanya dilakukan oleh ulama dan pendeta, tetapi

oleh seluruh pemeluk agaa Islam. Sunan bonang mengajarkan tentang egaliterianissme

dalam Islam. Sunan bonang mengajarkan tentang egaliterisme di dalam Islam. Jika

ibadat zahir dilakukan dengan mengerjakan rukun Islam yang lima, ibadat batin

ditempuh melalui tariqat atau ilmu suluk, dengan memperbanyak ibadah seperti

sembahyang sunnah, tahajud, taubat nasuha, wirid dan zikir. Zikir berarti mengingat

Tuhan tanpa henti. Di antara cara berzikir itu ialah dengan mengucapkan kalimah

La ilaha illa Allah. Di dalamnya terkandung rahsia keesaan Tuhan, alam semesta

dan kejadian manusia.

Berbeda dengan dalam agama Hindu, di dalam agama Islam disiplin kerohanian dan

ibadah dapat dilakukan di tengah keramaian, sebab perkara yang bersifat transendental

tidak terpisah dari perkara yang bersifat kemasyarakatan. Di dalam agama Islam

tidak ada garis pemisah yang tegas antara dimensi transendental dan dimensi

sosial. Dikatakan pula bahwa manusia terdiri daripada tiga hal yang pemiliknya

berbeda. Jasmaninya milik ulat dan cacing, rohnya milik Tuhan dan milik manusia

itu sendiri hanyalah amal pebuatannya di dunia.

Akhir

Kalam: Falsafah Wayang

Tamsil

paling menonjol yang dekat dengan budaya lokal ialah wayang dan lakon perang

Bala Kurawa dan Pandawa yang sering dipertunjukkan dalam pagelaran wayang..

Penyair-penyair sufi Arab dan Persia seperti Fariduddin `Attar dan Ibn Fariedh

menggunakan tamsil wayang untuk menggambarkan persatuan mistis yang dicapai

seorang ahli makrifat dengan Tuhannya. Pada abad ke-11 dan 12 M di Persia pertunjukan

wayang Cina memang sangat populer (Abdul Hadi W.M. 1999:153). Makna simbolik

wayang dan layar tempat wayang dipertunjukkan, berkaitan pula dengan bayang-bayang

dan cermin. Dengan menggunakan tamsil wayang dalam suluknya Sunan Bonang seakan-akan

ingin mengatakan kepada pembacanya bahwa apa yang dilakukan melalui karyanya

merupakan kelanjutan dari tradisi sastra sebelumnya, meskipun terdapat pembaharuan

di dalamnya.

Ketika ditanya oleh Sunan Kalijaga mengenai falsafah yang dikandung pertunjukan

wayang dan hubungannya dengan ajaran tasawuf, Sunang Bonang menunjukkan kisah

Baratayudha (Perang Barata), perang besar antara Kurawa dan Pandawa. Di dalam

pertunjukkan wayang kulit Kurawa diletakkan di sebelah kiri, mewakili golongan

kiri. Sedangkan Pandawa di sebelah kanan layar mewakili golongan kanan layar

mewakili golongan kanan. Kurawa mewakili nafi dan Pandawa mewakili isbat. Perang

Nafi Isbat juga berlangsung dalam jiwa manusia dan disebut jihad besar. Jihad

besar dilakukan untuk mencapai pencerahan dan pembebasan dari kungkungan dunia

material.

Sunan Bonang berkata kepada Wujil: Ketahuilah Wujil, bahwa pemahaman

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02
yang sempruna dapat dikiaskan dengan makna hakiki pertunjukan Wayang. Manusia

sempurna menggunakan ini untuk memahami dan mengenal Yang. Dalang dan wayang

ditempatkan sebagai lambang dari tajalli (pengejawantahan ilmu) Yang Maha Agung

di alam kepelbagaian. Inilah maknanya: Layar atau kelir meupakan alam inderawi.

Wayang di sebelah kanan dan kiri merupakan makhluq ilahi. Batang pokok pisang

tempat wayang diletakkan ialah tanah tempat berpijak. Blencong atau lampu minyak

adalah nyala hidup. Gamelan memberi irama dan keselarasan bagi segala kejadian.

Ciptaan Tuhan tumbuh tak tehitung. Bagi mereka yang tidak mendapat tuntunan

ilahi ciptaan yang banyak itu akan merupakan tabir yang menghalangi penglihatannya.

Mereka akan berhenti pada wujud zahir. Pandangannya kabur dan kacau. Dia hilang

di dalam ketiadaan, karena tidak melihat hakekat di sebalik ciptaan itu.

Selanjutnya kata Sunan BonangSuratan segala ciptaan ini ialah menumbuhnkan

rasa cinta dankasih. Ini merupakan suratan hati, perwujudan kuasa-kehendak yang

mirip dengan-Nya, jwalaupun kita pergi ke Timur-arat, Utara-Selatan atau atas

ke bawah. Demikinlah kehidupan di dunia ini merupakan kesatuan Jagad besar dan

Jagad kecil. Seperti wayang sajalah wujud kita ini. Segala tindakan, tingkah

laku dan gerak gerik kita sebenarnya secara diam-diam digerakkan oleh Sang Dalang.

Mendengar itu Wujil kini paham. Dia menyadari bahwa di dalam dasar-dasarnya

yang hakiki terdapat persamaan antara mistisisme Hindu dan tasawuf Islam. Di

dalam Kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, penyair Jawa Kuno abad ke-12 dari

Kediri, falsafah wayang juga dikemukakan. Mpu Kanwa menuturkan bahwa ketika

dunia mengalami kekacauan akibat perbuatan raksasa Niwatakawaca, dewa-dewa bersidang

dan memilih Arjuna sebagai kesatria yang pantas dijadikan pahlawan menentang

Niwatakawaca. Batara Guru turun ke dunia menjelma seorang pendeta tua dan menemui

Arujuna yang baru saja selesai menjalankan tapabrata di Gunung Indrakila sehingga

mencapai kelepasan (moksa)..

Di dalam wejangannya Batara guru berkata kepada Arjuna: Sesunguhnya jikalau

direnungkan baik-baik, hidup di dunia ini seprti permainan belaka. Ia serupa

sandiwara. Orang mencari kesenangan, kebahagiaan, namun hanya kesengsaraan yang

didapat. Memang sangat sukar memanfaatkan lima indra kita. Manusia senantiasa

tergoda oleh kegiatan indranya dan akibatnya susah. Manusia tidak akan mengenal

diri peribadinya jika buta oleh kekuasaan, hawa nafsu dan kesenangan sensual

dan duniawi. Seperti orang melihat pertunjukan wayang ia ditimpa perasaan sedih

dan menangis tesedu-sedu. Itulah sikap orang yang tidak dewasa jiwanya. Dia

tahu benar bahwa wayang hanya merupakan sehelai kulit yang diukir, yang digerak-gerakkan

oleh dalang dan dibuat seperti berbicara. Inilah kias seseorang yang terikat

pada kesenangan indrawi. Betapa besar kebodohannya. (Abdullah Ciptoprawiro

1984)

Selanjutnya Batara Guru berkata, Demikianlah Arjuna! Sebenarnya dunia

ini adalah maya. Semua ini sebenarnya dunia peri dan mambang, dunia bayang-bayang!

Kau harus mampu melihat Yang Satu di balik alam maya yang dipenuhi bayang-bayang

ini. Arjuna mengerti. Kemudian dia bersujud di hadpan Yang Satu, menyerahkan

diri, diam dalam hening. Baru setelah mengheningkan cipta atau tafakur dia merasakan

kehadiran Yang Tunggal dalam batinnya. . Kata Arjuna:

Sang

Batara memancar ke dalam segala sesuatu

Menjadi hakekat seluruh Ada, sukar dijangkau

Bersemayam di dalam Ada dan Tiada,

Di dalam yang besar dan yang kecil, yang baik dan yang jahat

Penyebab alam semesta, pencipta dan pemusnah

Sang Sangkan Paran (Asal-usul) jagad raya

Bersifat Ada dan Tiada, zakhir dan batin

(Ibid)

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02
Demikianlah,

dengan menggunakan tamsil wayang, Sunan Bonang berhasil meyakinkan Wujil bahwa

peralihan dari zaman Hindu ke zaman Islam bukanlah suatu lompatan mendadak bagi

kehidupan orang Jawa. Setidak-tidaknya secara spiritual terdapat kesinambungan

yang menjamin tidak terjadi kegoncangan. Memang secara lahir kedua agama tersebut

menunjukkan perbedaan besar, tetapi seorang arif harus tembus pandang dan mampu

melihat hakikat sehingga penglihatan kalbunya tercerahkan dan jiwanya terbebaskan

dari kungkungan dunia benda dan bentuk-bentuk. Itulah inti ajaran Sunan Bonang

dalam Suluk Wujil.

Daftar Bacaan

Abdullah

Ciptoprawiro (1984). Filsafat Jawa Dalam Dialog, ceramah di TIM

Jakarta,

11 Juli.

Abdul Hadi

W. M. (1981). Beberapa Informasi Tentang Sastra Madura. Sronen

No.2,

September 1981:11-15.

——————— (1999). Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber. Jakarta: Pustaka

Firdaus.

——————— (2000). Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya. Jakarta:

Pustaka

Firdaus.

——————— (2002). Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik Terhadap

Karya-karya Hamzah Fansuri Jakarta: Yayasan Paramadina.

Affifi,

Abul `Ala (1964). The Mystical Philosophy of Muhyi al-Din Ibn al-`Arabi.

Cambridge: Cambridge University Press.

Agus Sunyoto

(1995). Sunan Ampel. Surabaya: LPLI Sunan Ampel.

Al-Attas,

S. Muhammad Naquib (1971).Concluding Postscript to the Origin of the Malay

Sha`ir. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Ali Ahmad

dan Siti Hajar Che Man (1996). Sastra Melayu Warisan Islam. Kuala Lumpur:

Dewan Bahasa dan Pustaka.

de Graff,

H. J & Pigeaud, T.H.. (1985). Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa: Peralihan

dari

Majapahit ke Demak. Jakarta: Grafitti Press dan KITLV.

Drewes,

G. W. J. (1968) Javanese Poems dealing with or Attiributed to the Saint

of Bonang, BKI deel 124.

————–

(1978), The Admonition of Seh Bari, The Hague: Martinus Nijhoff.

al-Hujwiri,

Ali Utsman (1990). Kasyful Mahjub:Risalah Tasawuf Persia Tertua.

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02
Terjemahan Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi W. M. Bandung: Mizan.

Hussein

Djajadiningrat (1983). Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten. Jakarta:

Jambatan KITLV..

Kalamwadi,

K. (1980). Serat Darmogandul. Semarang: Dahara Press.

Kramer

H (1921). En Javaansche Primbon uit de Zestiende eeuw. Disertasi. Leiden.

Mir Valiuddin

(1980). Contemplative Discipline in Sufism. London The Hague: East-

West Publications.

Pegeaud,

T. H. (1967) Literature of Java, Vol. I. Leiden: Martinus Nijohoff

Purbatjaraka,

R. Ng. (1938) Soeloek Woedjil: De Geheime Leer van Soenan Bonang,

Djawa 1938, No. 3-5.

———————– (1958). Kapustakan Jawi. Jakarta: Jambatan.

Risvi,

S. A. (1978). A History of Sufism in India. Delhi: Munshiram Manoharlal

Publishers Pvt. Ltd.

Schimmel,

Annemarie (1981). Mystical Dimensions of Islam. Chapel Hill: The

University of North Caroline Press.

Schrieke,

B J. O (1911). Het Boek van Bonang. Disertasi. Leiden

Smith,

Margareth (1972). Reading from the Mystics of Islam. London: Luzac & Company

Ltd.

Suyadi

Pratomo (1985). Ajaran Rahasia Sunan Bonang. Jakarta: Balai Pustaka.

al-Taftazani,

Abu al-Wafa (1985). Sufi dari Zaman ke Zaman. Terjemahan A. Rofi

Utsmani. Bandung: Pustaka.

Zoetmulder,

P. J. (1983). Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta:

Djambatan KITLV.

http://icas-indonesia.org – ICAS Powered by Mambo Generated: 29 September, 2007, 04:02

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: